211 Hektare Lahan Terbakar di Samarinda, Pemkot Ajukan Operasi Modifikasi Cuaca ke BNPB
SAMARINDA, INDEKSMEDIA.ID – Pemerintah Kota Samarinda mengusulkan operasi modifikasi cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meningkat di tengah kondisi kemarau.
Hingga Senin (31/8/2026), BPBD Samarinda mencatat sebanyak 127 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar sekitar 211 hektare. Angka tersebut meningkat dari catatan sebelumnya yang mencapai 102 kejadian dengan luas sekitar 160 hektare.
“Pemerintah kota sudah mengusulkan surat ke BNPB dan sekarang lagi berproses untuk dilakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC,” kata Sekretaris BPBD Samarinda, Romiansyah, Selasa (1/9/2026).
Menurut Romiansyah, pengajuan OMC dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan. Pemerintah berharap operasi tersebut dapat membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan.
Dalam pelaksanaannya, OMC dilakukan dengan menaburkan bahan semai ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan sehingga kondisi lahan menjadi lebih lembap dan risiko kebakaran dapat ditekan.
Romiansyah mengatakan proses pengajuan kepada BNPB masih berjalan dan Pemkot Samarinda masih menunggu tahapan lanjutan terkait pelaksanaan OMC.
Selain OMC, Pemkot Samarinda juga mengusulkan dukungan water bombing kepada BNPB. Dukungan tersebut dipersiapkan sebagai alternatif penanganan apabila kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Untuk penanganan karhutla saat ini, BPBD Samarinda mengoperasikan dua unit mobil tangki. Armada tersebut digunakan untuk memasok air ke lokasi kebakaran yang masih dapat dijangkau kendaraan.
Namun, kondisi geografis sejumlah titik kebakaran membuat mobil tangki tidak selalu dapat mendekati lokasi. Karena itu, BPBD menyiapkan sekitar 8-10 mesin pompa portabel untuk membantu menjangkau wilayah dengan akses terbatas.
“Kekuatan yang ada terus kami manfaatkan untuk menangani setiap laporan kebakaran. Koordinasi dengan instansi terkait dan relawan juga terus dilakukan,” ujar Romiansyah.
Meningkatnya kejadian karhutla juga berpotensi memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Samarinda. Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan masker.
“Jadi, disarankan untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, itu tetap kalau aktivitas keluar rumah menggunakan masker,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan mayoritas kebakaran lahan di wilayahnya diduga berkaitan dengan aktivitas manusia.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu munculnya api, terutama di kawasan dengan kondisi lahan kering.
Menurut Andi Harun, dugaan keterlibatan manusia dalam sejumlah kasus karhutla bahkan telah masuk ke ranah hukum. Polisi disebut telah memeriksa sejumlah orang terkait dugaan tersebut.
“Kalau saya tidak salah, itu sudah ada kurang lebih lima sampai enam orang yang secara intensif diperiksa di Polresta Samarinda,” ungkap Andi Harun.
Pemkot Samarinda bersama TNI dan Polri juga terus memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi sekaligus menindak pihak yang terbukti sengaja maupun lalai hingga menyebabkan kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penindakan terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya karhutla.



Tinggalkan Balasan