INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

BPBD Sebut Kutim, Berau, Kubar, dan Paser Rawan Karhutla: Kelalaian Manusia Jadi Penyebab Utama

Jibril Daulay Jibril Daulay - 6100 views
Ilustrasi pemadaman kebakarna lahan

SAMARINDA, INDEKSMEDIA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengungkapkan puncak musim kemarau di wilayah tersebut mengalami pergeseran. Meski secara klimatologis puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga Agustus, hujan masih kerap turun dengan intensitas lebih rendah dibanding musim penghujan.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim, Buyung Budi Purnomo, mengatakan kondisi tersebut membuat dampak kemarau ekstrem belum dirasakan secara menyeluruh. Perkembangan cuaca diperkirakan terus dipantau hingga Agustus mendatang.

“Kondisi ini menyebabkan kemarau bergeser, sehingga situasi ekstrem kemarau secara menyeluruh belum begitu dirasakan hingga saat ini. Kita perkirakan dari akhir Juli sampai Agustus nanti akan terus kita pantau perkembangannya,” ujar Buyung saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual bertema Karhutla Kaltim: Mitigasi, Kolaborasi dan Tantangan di Lapangan, Kamis (23/7/2026).

Buyung menjelaskan, setiap pergantian musim membawa potensi bencana yang berbeda. Pada musim penghujan, ancaman yang dominan berupa banjir dan tanah longsor. Sementara memasuki musim kemarau sejak Juli, potensi bencana bergeser menjadi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga kebakaran permukiman.

Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdating) serta pemetaan BPBD kabupaten/kota, daerah dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi berada di Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Paser.

Ia menyebut, kebakaran hutan dan lahan hampir terjadi setiap hari di sejumlah wilayah Kaltim. Meski demikian, sebagian besar kejadian masih dapat dikendalikan dengan luasan di bawah lima hektare berkat respons cepat tim di tingkat kabupaten dan kota.

Menurut Buyung, mayoritas kasus karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar, pembakaran sampah rumah tangga yang ditinggalkan, hingga pembuangan puntung rokok di kawasan yang mudah terbakar.

“Kita ketahui pada musim kemarau ini tingkat kekeringan lahan sangat tinggi sehingga mudah terbakar. Kesalahan kecil yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran semakin meluas,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi potensi tersebut, BPBD Provinsi Kaltim menerapkan sistem satu komando dalam penanganan karhutla. Upaya ini melibatkan BPBD kabupaten/kota, instansi terkait, serta berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan mitigasi dan penanggulangan.

Selain itu, tim gabungan di tingkat kabupaten dan kota terus menggencarkan patroli rutin serta memantau titik panas (hotspot) berdasarkan laporan cepat masyarakat sebagai langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!