https://www.zeverix.com/

INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

Udara Sangatta Memburuk, PM10 Capai 629 dan Sekolah Diminta Pertimbangkan Belajar dari Rumah

KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Kondisi udara di sejumlah wilayah Kutai Timur (Kutim) memburuk, Rabu (16/9/2026). Pengukuran yang dilakukan melalui fasilitas kesehatan menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 dan PM10 berada pada angka tinggi.

Di wilayah kerja Puskesmas Sepaso, misalnya, pengukuran pada pukul 16.51 Wita mencatat PM2.5 mencapai 221, sedangkan PM10 berada di angka 629. Saat itu suhu udara tercatat 28,97 derajat Celsius dengan kelembapan 73,5 persen.

Angka serupa juga terpantau di wilayah lain. Pengukuran di depan Puskesmas Batu Ampar pada pukul 16.42 Wita mencatat PM2.5 sebesar 145 dan PM10 mencapai 419. Suhu berada pada 25,96 derajat Celsius dengan kelembapan 78,7 persen.

Tingginya konsentrasi partikulat tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim. Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, meminta masyarakat lebih berhati-hati terhadap kondisi udara yang sedang terjadi.

“PM10 menunjukkan angka yang tinggi dok, harusnya normal 75 saja ini sampai 419,” demikian laporan Puskesmas Batu Ampar kepada Kadinkes.

Dinkes meminta masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara masih menunjukkan konsentrasi partikulat yang tinggi.

Warga yang tetap harus melakukan aktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker. Dinkes menyarankan masker N95, KN95, atau KF94 apabila tersedia karena memiliki kemampuan filtrasi lebih tinggi. Jika tidak tersedia, masyarakat tetap dapat menggunakan masker yang dimiliki untuk membantu mengurangi paparan udara tercemar.

Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak. Dengan kondisi udara yang dilaporkan tidak sehat hingga sangat tidak sehat, Dinkes meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim mempertimbangkan opsi pembelajaran dari rumah.

“Izin, mohon dapat dipertimbangkan Bapak Mulyono, Kadisdikbud, agar anak sekolah dapat belajar dari rumah dulu,” kata Yuwana.

Usulan tersebut belum menjadi keputusan. Dinkes baru meminta agar opsi tersebut dipertimbangkan dengan melihat perkembangan kualitas udara dan kondisi di lapangan.

Di tengah tingginya angka partikulat tersebut, asal asap yang memengaruhi udara Sangatta belum seluruhnya berasal dari titik kebakaran yang terpantau di wilayah kota.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan hingga sore hari tidak terdapat laporan karhutla dari posko Sangatta Utara maupun Sangatta Selatan pada pemantauan awal.

“Dari pagi sampai saat ini tidak ada laporan karhutla sama sekali,” ujar Naim kepada Media Kaltim.

Berdasarkan hasil briefing BPBD, kondisi udara di Sangatta diduga turut dipengaruhi asap yang terbawa dari wilayah lain yang masih mengalami karhutla.

“Dari hasil briefing tadi, kita dapat kiriman dari daerah yang masih terdampak oleh karhutla,” katanya.

Pemantauan BPBD kemudian terus dilakukan. Hingga sekitar pukul 17.00 Wita, posko di wilayah utara dan selatan belum melaporkan adanya kejadian karhutla.

Namun, setelah pengecekan tersebut, BPBD menerima informasi mengenai kebakaran lahan di kawasan Sangatta Selatan.

Personel BPBD pun telah disiapkan di wilayah utara dan selatan untuk merespons apabila ditemukan titik kebakaran baru.

“Teman-teman BPBD sudah kita siapkan di selatan maupun utara. Kalau itu masih di selatan, berarti tim BPBD dan teman-teman yang lain itu yang menangani,” ujar Naim.

Kondisi tersebut membuat pemantauan udara dan potensi karhutla menjadi dua hal yang berjalan beriringan. Tidak ditemukannya banyak laporan titik api di Sangatta pada awal pemantauan bukan berarti kualitas udara terbebas dari dampak asap.

Asap dari wilayah lain dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di daerah yang tidak menjadi lokasi utama kebakaran. Karena itu, Dinkes dan BPBD tetap melakukan pemantauan sembari meminta masyarakat membatasi paparan terhadap udara luar ketika kualitas udara sedang memburuk. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!