PENAS KTNA 2026, Wabup Kutim Ajak Anak Muda Jadikan Pertanian Sebagai Masa Depan
GORONTALO,INDEKSMEDIA.ID – Di tengah pembahasan teknologi pertanian, pupuk, dan target swasembada pangan nasional, isu regenerasi petani justru menjadi perhatian utama dalam gelaran Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII di Gorontalo.
Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, menilai masa depan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi dan pemanfaatan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Menurutnya, kehadiran petani muda menjadi kebutuhan mendesak agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga dalam jangka panjang. Karena itu, kontingen KTNA Kutai Timur turut membawa lima petani muda untuk mengikuti rangkaian kegiatan PENAS KTNA XVII.
“Kami sengaja mengajak generasi muda agar mereka bisa melihat langsung perkembangan dunia pertanian saat ini. Pertanian sudah jauh berbeda, lebih modern, terbuka terhadap inovasi, dan memiliki peluang ekonomi yang besar,” ujar Mahyunadi saat mengikuti PENAS di Gorontalo, Sabtu (20/6/2026).
Dia mengatakan, forum yang mempertemukan ribuan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, dan pelaku usaha dari seluruh Indonesia tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk belajar berbagai inovasi terbaru di sektor pertanian.
Mahyunadi menilai banyak pengetahuan yang dapat dibawa pulang oleh peserta, mulai dari pemanfaatan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas lahan, hingga pengembangan usaha tani yang lebih efisien.
“PENAS menjadi tempat bertukar pengalaman dan belajar bersama. Banyak teknologi dan inovasi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan hasil pertanian,” katanya.
Selain menjadi ruang pembelajaran, kegiatan tersebut juga memberi gambaran mengenai arah kebijakan pemerintah dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Informasi tersebut dinilai penting agar daerah dapat menyesuaikan program pembangunan pertanian dengan kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah pusat.
Mahyunadi menegaskan target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045 membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Petani harus semakin maju, produktif, dan mampu memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Itu menjadi salah satu pesan penting yang kami tangkap dari kegiatan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Mahyunadi mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait proses penyaluran bantuan pertanian yang dinilai masih terkendala prosedur administrasi.
“Komitmen membantu petani sudah ada, tetapi beberapa mekanisme masih memerlukan waktu cukup panjang. Harapannya ke depan prosesnya bisa lebih cepat sehingga manfaatnya segera dirasakan petani,” katanya.
Dia juga menyoroti pentingnya memastikan ketersediaan pupuk bagi petani. Menurutnya, posisi geografis Kutai Timur yang relatif dekat dengan kawasan industri pupuk di Bontang menjadi keuntungan tersendiri dalam mendukung kebutuhan sektor pertanian daerah.
Sementara itu, saat membuka PENAS KTNA XVII, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya memperkuat kemandirian pangan nasional di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian rantai pasok pangan dunia.
“Kita harus memperkuat kemandirian pangan nasional. Dalam situasi global yang penuh tantangan, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada negara lain. Petani adalah garda terdepan kemandirian pangan bangsa,” tegas Gibran.
Pesan serupa disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang meminta penyederhanaan regulasi agar petani lebih mudah memperoleh bantuan maupun sarana produksi pertanian, termasuk pupuk bersubsidi.
PENAS KTNA XVII sendiri diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi ajang pertukaran pengalaman, teknologi, serta penguatan jejaring antarpelaku sektor pertanian. Dari forum tersebut, Lampung ditetapkan sebagai tuan rumah PENAS KTNA XVIII yang akan digelar pada 2029. (kopi4/kopi3)



Tinggalkan Balasan