https://www.zeverix.com/

INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

Plt Camat Kaliorang Ungkap Masih Ada Desa Kesulitan Air Bersih dan Jaringan Listrik

Plt Camat Kaliorang, Pitriani.

KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Sejumlah warga di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, masih menghadapi keterbatasan akses terhadap jaringan listrik dan air bersih, khususnya masyarakat yang tinggal jauh dari jalan poros. Kondisi ini disampaikan Plt Camat Kaliorang, Pitriani, Jumat (2/10/2026).

Pitriani mengatakan jaringan listrik di Kecamatan Kaliorang secara umum sudah menjangkau hampir seluruh wilayah.

Namun, masih terdapat sejumlah permukiman yang belum terlayani jaringan listrik secara optimal karena jaringan PLN belum masuk hingga ke gang-gang atau kawasan permukiman yang berada di luar jalan poros.

“Kalau untuk listrik, kita hampir semuanya sudah. Cuma ada beberapa yang mungkin perlu penambahan, penambahan jangkauan jaringan,” kata Pitriani.

Menurutnya, kondisi tersebut antara lain masih ditemukan di Desa Bukit Makmur, Desa Kaliorang, dan Desa Bumi Sejahtera.

Di sejumlah lokasi, jaringan PLN sudah tersedia di sepanjang jalan poros, tetapi belum menjangkau permukiman yang masuk lebih jauh.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sebagian masyarakat berinisiatif membangun sendiri sarana pendukung agar jaringan listrik dapat ditarik menuju rumah mereka.

Warga menggunakan tiang dari balok kayu, termasuk kayu ulin, sebagai penyangga jaringan.

“Kalau instalasinya PLN, cuma kami masyarakat yang mau nyalur itu menyediakan sarana prasarananya. Kalau lebih daripada itu kita menyiapkan sendiri atau kita beli sendiri,” jelasnya.

Pitriani mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih perlunya perluasan jaringan listrik hingga ke permukiman yang belum terjangkau.

Sebab, meski jaringan utama telah berada di jalan poros, warga di kawasan dalam masih harus mengeluarkan biaya sendiri untuk mendapatkan sambungan.

Selain persoalan listrik, akses air bersih juga menjadi pekerjaan rumah di Kecamatan Kaliorang.

Pitriani menyebut layanan Perumdam atau PDAM saat ini telah menjangkau hampir lima desa, di antaranya Desa Bukit Makmur, Bukit Harapan, Citra Manunggal Jaya (CMJ), Bangun Jaya, dan Bumi Sejahtera.

Namun, Desa Kaliorang masih menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penyelesaian jaringan distribusi air hingga ke rumah-rumah warga.

“Di desa Kaliorang itu pipa besarnya ada, masuk, tetapi aksesori atau pipa jaringan ke masing-masing rumah-rumah itu belum ada. Jadi PR memang di Desa Kaliorang,” ujarnya.

Menurut Pitriani, pemerintah desa telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak terkait.

Bahkan, kepala desa disebut telah berkoordinasi langsung dengan pihak PDAM untuk meminta tindak lanjut terhadap jaringan distribusi yang belum tersambung ke rumah warga.

Dia berharap persoalan tersebut segera mendapat respons karena kondisi di lapangan cukup ironis.

Pipa utama sudah berada di sekitar permukiman, tetapi sebagian warga belum dapat menikmati layanan air dari jaringan tersebut.

“Harapan kami dari pihak PDAM ini ada respons secepatnya. Karena kan melihat pipa besar mengalir di depan rumah, tapi tidak menerima itu seperti apa,” katanya.

Keterbatasan akses air bersih semakin terasa selama musim kemarau. Warga yang belum mendapatkan jaringan PDAM terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pitriani menyebut harga air yang dibeli masyarakat bervariasi, mulai sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per tangki.

Dalam kondisi tertentu, pengeluaran rumah tangga untuk air bahkan dapat mencapai ratusan ribu hingga sekitar Rp1 juta dalam sebulan.

Kondisi tersebut terutama dirasakan warga di Desa Kaliorang dan kawasan Kamp Pasir yang masuk wilayah Desa Citra Manunggal Jaya.

Di kawasan tersebut, sebagian masyarakat masih belum memiliki jaringan air yang masuk hingga ke rumah.

“Kalau ada yang satu bulan itu menghabiskan satu juta untuk beli air, air saja selama musim kemarau ini. Ada yang Rp500 ribu, Rp120 ribu, ada yang Rp150 ribu,” ungkap Pitriani.

Dia menjelaskan, sebelum musim kemarau, sebagian masyarakat mengandalkan air hujan yang ditampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula warga yang menggunakan sumur tadah hujan.

Namun, ketika musim kemarau berlangsung dan sumber air mengering, ketergantungan terhadap air yang dibeli semakin tinggi.

Warga harus membeli air setiap beberapa hari untuk menjaga ketersediaan kebutuhan rumah tangga.

“Paling tidak tiga hari, empat hari. Itu khusus untuk daerah-daerah seperti Desa Kaliorang, kemudian Desa CMJ yang bagian Kamp Pasir,” imbuhnya. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!