Kepala Disdikbud Minta Tiga Buku Sejarah Kutim Diperiksa Ulang, Nama Tokoh dan Tempat Jangan Keliru
KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Ketelitian dalam menulis nama tokoh dan tempat menjadi perhatian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono, dalam seminar akhir kajian penulisan tiga buku sejarah daerah. Menurutnya, kekeliruan pada bagian tersebut bisa mengurangi kualitas karya yang disusun, meskipun materi sejarah di dalamnya sudah cukup baik.
Mulyono meminta tim penulis dan Bidang Kebudayaan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh sebelum naskah memasuki tahap penyelesaian akhir. Hal itu disampaikan saat seminar akhir kajian penulisan buku sejarah Kutai Timur di Ruang Rapat Pembuda, Kantor Bupati Kutai Timur, Kamis (29/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, terdapat tiga naskah yang dibahas, yakni buku sejarah budaya berjudul “Kisah-Kisah dari Kutai Timur: Budaya, Tradisi, dan Kehidupan”, buku sejarah Islam berjudul “Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur”, serta buku sejarah dan perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepok Jalan di Kutai Timur.
Mulyono menilai seminar akhir menjadi kesempatan penting untuk memastikan naskah tidak hanya memuat informasi sejarah yang lengkap, tetapi juga akurat dalam penyebutan nama orang, jabatan, dan lokasi.
“Saya ingin memberikan harapan, terutama terkait dengan penulisan nama-nama tokoh dan nama-nama tempat. Kalau bisa dicek lagi, jangan sampai salah,” tegas Mulyono.
Dia mencontohkan adanya penulisan nama wilayah yang perlu dipastikan kembali, termasuk penyebutan Muara Ancalam yang diduga merujuk pada Muara Ancalong. Menurutnya, detail seperti itu tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut ketepatan informasi yang nantinya dibaca masyarakat.
Mulyono juga mengingatkan agar kesalahan penulisan tidak dibiarkan berulang akibat kebiasaan menyalin dokumen atau menggunakan materi lama tanpa pemeriksaan kembali.
“Tidak ada yang tidak sempurna, semua bisa salah. Tapi yang terpenting adalah kalau begini tidak diingatkan, nanti bisa terulang. Apalagi kalau sudah copy paste, sekali salah, salah terus,” ujarnya.
Untuk memastikan kualitas naskah, Mulyono membuka ruang pembahasan lanjutan bersama tim penulis dan Bidang Kebudayaan.
Pemeriksaan internal, menurutnya, dapat dilakukan setelah seminar akhir agar setiap bagian buku diperiksa lebih rinci sebelum diterbitkan.
Dia menegaskan, penyusunan buku sejarah bukan sekadar memenuhi kebutuhan dokumentasi pemerintah daerah, melainkan menghasilkan referensi yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Karena itu, akurasi nama, lokasi, dan informasi sejarah harus menjadi bagian dari proses penyuntingan.
Mulyono berharap ketiga buku tersebut nantinya dapat menjadi koleksi museum daerah sekaligus bahan bacaan di sekolah-sekolah. Dengan begitu, pelajar dan generasi muda dapat mengenal sejarah serta perkembangan masyarakat Kutai Timur melalui sumber tertulis yang dapat dipertanggungjawabkan. (adv)



Tinggalkan Balasan