Hari Ke-4 Pencarian Nelayan Kutim yang Hilang di Muara Berau, Tim SAR Perluas Penyisiran
TENGGARONG, INDEKSMEDIA.ID – Upaya pencarian seorang nelayan asal Kutai Timur yang dilaporkan hilang setelah mengalami kecelakaan saat memancing di Perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, masih belum membuahkan hasil. Memasuki hari keempat operasi pencarian, Tim SAR Gabungan kembali memperluas area penyisiran untuk menemukan korban.
Korban diketahui bernama Hasriarto (37), warga Desa Muara Badak Ulu. Ia dilaporkan hilang setelah berangkat memancing seorang diri menggunakan metode rawai pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 16.30 Wita dan hingga kini belum kembali ke daratan.
Kekhawatiran keluarga muncul ketika korban tidak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Pada Kamis (16/7/2026) pagi, nelayan setempat menemukan kapal milik korban mengapung di Perairan Muara Berau dalam kondisi setengah tenggelam dan nyaris karam, sementara korban tidak berada di lokasi.
Saat dilaporkan hilang, korban terakhir terlihat mengenakan jaket berwarna ungu dan celana pendek hitam. Pihak keluarga juga menyebut korban memiliki riwayat medis berupa kejang yang dapat muncul secara tiba-tiba.
Pada hari ketiga pencarian, Minggu (19/7/2026), Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian hingga 119 nautical mile persegi (NM²). Wilayah pencarian dibagi menjadi tiga sektor untuk memaksimalkan penyisiran.
Sejumlah armada dikerahkan dalam operasi tersebut, di antaranya Rigid Inflatable Boat (RIB) Basarnas, speed boat TNI AL, serta kapal patroli Polairud. Tim juga didukung peralatan SAR air, perlengkapan selam, perangkat komunikasi, dan perlengkapan medis.
Memasuki hari keempat, Senin (20/7/2026), radius pencarian kembali diperluas hingga mencapai 155 nautical mile persegi (NM²). Namun hingga operasi harian dihentikan pada sore hari, korban belum berhasil ditemukan.
Kepala Pos (Kapos) Sektor Damkar Matan Muara Badak, Adianto, mengatakan pencarian dilakukan dengan metode penyisiran permukaan karena kondisi lokasi tidak memungkinkan untuk penyelaman.
“Kami melakukan pencarian dengan metode penyisiran di area sekitar. Kemudian kami tidak melakukan penyelaman, karena area tidak memungkinkan,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Adianto menjelaskan operasi SAR menghadapi sejumlah kendala, mulai dari cuaca buruk, arus bawah laut yang kuat, hingga angin kencang yang memicu gelombang tinggi. Selain itu, jarak tempuh dari pos utama menuju lokasi kejadian juga cukup jauh sehingga memperlambat mobilisasi tim.
“Kondisi ini sangat memengaruhi pergerakan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) serta efektivitas penyisiran oleh tim penyelam,” jelasnya.
Tim SAR Gabungan dijadwalkan melanjutkan pencarian dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan koordinasi antarunsur yang terlibat, dengan harapan korban dapat segera ditemukan.



Tinggalkan Balasan