Butuh 35 Ribu Posisi Manajer Koperasi Merah Putih di Kaltim, Transparansi Rekrutmen Jadi Perhatian
INDEKSMEDIA, SAMARINDA — Transparansi rekrutmen tenaga kerja dalam program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi sorotan di daerah. Program nasional ini disebut membuka lebih dari 35 ribu lowongan kerja dan diperkirakan menjangkau sekitar 1,56 juta warga desa di seluruh Indonesia.
Sejumlah pihak menilai peluang kerja tersebut harus benar-benar dapat diakses masyarakat lokal, termasuk di Kalimantan Timur, serta tidak didominasi tenaga dari luar daerah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah rencana penempatan manajer koperasi yang direkrut secara terbuka.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas PPKUKM Kaltim Ronny Suhendra menjelaskan bahwa proses teknis rekrutmen, termasuk untuk posisi manajer koperasi, sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Untuk posisi manajer koperasi desa dan kelurahan Merah Putih jumlahnya sekitar 30 ribu posisi. Teknisnya sepenuhnya kewenangan dari pusat, kami di daerah hanya menerima hasilnya,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Dialog Publika TVRI Kaltim, Senin (27/4/2026).
Di sisi lain, Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih Lempake Adung KS Utomo menyatakan dukungan terhadap program tersebut karena dinilai memiliki tujuan memperkuat ekonomi kerakyatan melalui kelembagaan koperasi.
“Kami sepakat dulu apa yang dicanangkan bapak presiden dan dirumuskan pemerintah tentu mempunyai tujuan yang baik. Koperasi ini adalah kelembagaan yang memang mempunyai kekuatan dibanding usaha lain,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai masih diperlukan kejelasan informasi, terutama terkait kebijakan teknis di lapangan. Menurutnya, banyak pengurus koperasi di daerah justru lebih dahulu mengetahui perkembangan program melalui media sosial dibandingkan jalur resmi.
“Kebijakan yang diturunkan untuk koperasi Merah Putih tidak pernah kami dengar langsung. Justru lebih awal kami tahu dari media sosial,” katanya.
Adung juga menekankan pentingnya penempatan manajer yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah. Ia menilai setiap koperasi memiliki potensi usaha berbeda, mulai dari pertanian, peternakan, hingga perdagangan, sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang memahami kondisi lokal.
“Belum tentu juga manajer itu punya kompetensi di bidang usaha koperasi. Tiap wilayah punya dinamika sendiri dan potensi sendiri,” tegasnya.
Selain aspek rekrutmen, kejelasan pembiayaan dan dukungan usaha juga dinilai penting agar koperasi yang telah terbentuk dapat berkembang secara optimal. Saat ini, koperasi perintis di daerah disebut masih bertahan sambil menunggu kepastian dukungan lanjutan dari pemerintah.
Program Koperasi Merah Putih dinilai memiliki peran strategis di Kalimantan Timur, terutama dalam memperkuat ekonomi lokal di tengah percepatan pembangunan wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Dengan pengelolaan transparan dan dukungan kebijakan yang jelas, koperasi desa diharapkan menjadi fondasi ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.



Tinggalkan Balasan