Solusi Dekatkan Pendidikan bagi Anak Wilayah Terpencil, Kadisdikbud Kutim Jelaskan Sekolah Filial
KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Kepala Dinas Pendidikan Kutai Timur, Mulyono, menjelaskan keberadaan sekolah filial sebagai salah satu solusi pemerintah daerah untuk mendekatkan layanan pendidikan kepada anak-anak yang tinggal di wilayah dengan akses sekolah yang terbatas.
Menurut Mulyono, sekolah filial dibentuk ketika jumlah peserta didik di suatu wilayah belum mencukupi untuk mendirikan sekolah baru, sementara jarak menuju sekolah induk cukup jauh dan sulit dijangkau.
“Filial itu sebenarnya sekolah perantara atau sekolah darurat. Biasanya karena faktor akses keterjangkauan. Mau dibangun sekolah sendiri belum cukup muridnya, sementara kalau diikutkan langsung di induk terlalu jauh,” jelas Mulyono saat diwawancarai, Kamis (1/10/2026).
Mulyono menerangkan, sekolah filial pada dasarnya merupakan bagian atau anakan dari sekolah induk.
Meski proses pembelajaran berlangsung di lokasi yang berbeda, sekolah tersebut tetap berada di bawah pengelolaan sekolah induk.
Dia mencontohkan kondisi di wilayah Pulau Miang. Ketika terdapat permukiman yang lokasinya cukup jauh dari sekolah induk, keberadaan sekolah filial dapat menjadi alternatif agar anak-anak di wilayah tersebut tetap bisa mendapatkan pendidikan tanpa harus menempuh jarak yang jauh.
“Filial itu boleh dibilang anakan. Ada induknya. Itu untuk membantu memudahkan anak dalam belajar,” katanya.
Menurut Mulyono, pola tersebut dapat diterapkan ketika terdapat sekitar 10 hingga belasan anak usia sekolah di suatu wilayah yang menghadapi kendala akses.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah tidak harus langsung membangun sekolah baru, tetapi dapat terlebih dahulu menghadirkan layanan melalui sekolah filial.
Guru dari sekolah induk kemudian dapat datang ke lokasi filial untuk memberikan pembelajaran kepada peserta didik.
Mulyono menyebut terdapat sejumlah sekolah filial yang saat ini berjalan di Kutai Timur. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 10 sekolah yang tersebar di sejumlah wilayah.
Namun, keberadaan sekolah filial bukan berarti akan berlangsung selamanya. Mulyono mengatakan pemerintah tetap melihat perkembangan jumlah peserta didik dan kondisi wilayah untuk menentukan kemungkinan pengembangan menjadi sekolah tersendiri.
“Kalau memang sudah kondisinya memungkinkan untuk dibangun sekolah sendiri, nanti kita pindahkan sendiri. Ini menjadi pengembangan sebuah sekolah,” ujarnya.
Dalam pengelolaannya, kebutuhan tenaga pendidik menjadi salah satu perhatian. Mulyono mengakui keterbatasan guru juga menjadi tantangan dalam memberikan layanan pendidikan di sejumlah sekolah filial.
Karena itu, dalam beberapa kasus terdapat dukungan dari pihak perusahaan untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, khususnya melalui bantuan honor bagi guru yang mengajar di sekolah filial.
“Karena guru sangat terbatas, beberapa sekolah filial juga dibantu oleh pihak perusahaan. Guru-gurunya itu honornya dibantu oleh pihak perusahaan,” ungkap Mulyono.
Dia menilai keberadaan sekolah filial menjadi salah satu bentuk penyesuaian kebijakan pendidikan dengan kondisi geografis Kutai Timur yang memiliki wilayah luas dan karakter permukiman yang tersebar.
Bagi Mulyono, pola layanan seperti sekolah filial diperlukan agar anak-anak tetap memperoleh kesempatan belajar meskipun tinggal di wilayah yang belum memungkinkan dibangun sekolah baru.
Dengan pola tersebut, pemerintah dapat menghadirkan layanan pendidikan secara bertahap, sembari melihat perkembangan jumlah peserta didik hingga suatu wilayah dinilai siap memiliki satuan pendidikan sendiri. (adv)



Tinggalkan Balasan