INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

Jimmi Ungkap Ekonomi Kutim Melambat Bukan Karena Kemiskinan, Tapi Daya Beli

Jibril Daulay Jibril Daulay - 16800 views
Ketua DPRD Kutim, Jimmi (foto: Riri/Indeksmedia)

INDEKSMEDIA, SANGATTA — Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi sorotan, seiring belum optimalnya perputaran uang di daerah meski sejumlah indikator sosial menunjukkan tren positif.

Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh meningkatnya angka kemiskinan, melainkan melemahnya daya beli masyarakat dan lambatnya aktivitas ekonomi.

“Ini bukan berarti masyarakat kita makin miskin. Tapi daya beli dan kemampuan menjual yang perputarannya sedang melemah,” ujarnya usai mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), Selasa (7/4/2026).

Menurut Jimmi, salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ekonomi daerah adalah ketergantungan terhadap aliran dana dari pemerintah pusat, seperti APBD, dana bagi hasil (DBH), hingga pembayaran kurang salur.

Ia menjelaskan, peningkatan aliran dana tersebut akan langsung berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Sebaliknya, jika aliran dana tersendat, perputaran ekonomi di daerah turut melambat.

“Kalau dana dari pusat bertambah, otomatis uang di daerah juga meningkat. Daya beli naik, aktivitas usaha ikut bergerak,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan agar analisis ekonomi tidak hanya bertumpu pada besaran APBD. Menurutnya, diperlukan kajian lebih mendalam untuk mengetahui faktor dominan yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau menilai hanya dari APBD, itu seperti tebak-tebakan. Harus dianalisis lebih dalam faktor mana yang paling dominan,” tegasnya.

Selain itu, Jimmi juga menyoroti pengaruh faktor global terhadap ekonomi Kutim yang masih bergantung pada sektor sumber daya alam.

“Kita sangat bergantung pada kondisi global. Produk kita banyak dimanfaatkan negara lain, jadi kalau di luar terganggu, kita juga ikut terdampak,” tambahnya.

Ia mengungkapkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen saja dibutuhkan perputaran dana dalam jumlah besar, bahkan bisa mencapai sekitar Rp1,2 triliun.

“Kalau dana sebesar itu tidak berputar di daerah, tentu pertumbuhan akan tertahan,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas perputaran ekonomi serta memperkuat sektor riil agar tidak terus bergantung pada suntikan dana pemerintah.

“Intinya, bagaimana uang itu berputar di daerah. Kalau perputaran lancar, ekonomi pasti ikut bergerak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!