Disdikbud Kutim Ungkap Ragam Program Beasiswa, dari Siswa hingga Guru
KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus memperluas dukungan terhadap akses pendidikan melalui berbagai program beasiswa. Program tersebut tidak hanya menyasar siswa dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tetapi juga guru dan tenaga pendidik yang membutuhkan peningkatan kualifikasi akademik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono, mengatakan program beasiswa menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat Kutai Timur memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih luas.
Hal itu disampaikan Mulyono dalam wawancara pada Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, program beasiswa di Kutai Timur telah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan terus mengalami pengembangan. Salah satu program yang telah lebih dahulu berjalan yakni Beasiswa Stimulan dan Beasiswa Kutim Tuntas.
Beasiswa tersebut diberikan kepada peserta didik mulai dari jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Untuk jenjang SD, misalnya, Beasiswa Stimulan diberikan sebesar Rp1 juta per siswa dengan penerima mencapai lebih dari 7.000 anak.
Sementara untuk jenjang SMP, bantuan yang diberikan sebesar Rp1,5 juta dengan jumlah penerima sekitar 2.500 siswa. Adapun alokasi untuk jenjang SMA hingga perguruan tinggi berada pada pengelolaan anggaran sektor terkait.
Selain beasiswa reguler, Pemkab Kutim juga memiliki program beasiswa bagi penghafal Al-Qur’an. Program tersebut menyasar siswa jenjang SD dan SMP dengan besaran bantuan yang berbeda sesuai jenjang pendidikan.
Mulyono menjelaskan, program beasiswa tersebut melengkapi skema bantuan pendidikan lainnya yang diberikan berdasarkan prestasi maupun kondisi ekonomi peserta didik.
“Beasiswa itu yang umum, artinya sudah ada. Kemudian ada yang berbasis prestasi dan beasiswa untuk anak kurang mampu,” kata Mulyono.
Tidak berhenti pada program beasiswa reguler, Pemkab Kutim juga mengembangkan program kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan dan perguruan tinggi.
Salah satunya Beasiswa Indonesia Emas Daerah yang merupakan program kerja sama Pemkab Kutim dengan pihak terkait untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak Kutai Timur menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.
Perguruan tinggi yang menjadi tujuan antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Brawijaya.
Mulyono mengatakan program tersebut telah berjalan sejak 2024 dan hingga 2026 telah memasuki beberapa tahap pengiriman mahasiswa.
“Ini berjalan sejak tahun 2024 sampai sekarang. Jadi sudah ada tiga kali kita kirim,” ujarnya.
Pada 2026, Pemkab Kutim juga membuka kerja sama beasiswa dengan Sampoerna University. Program ini memiliki skema berbeda karena mencakup biaya pendidikan sekaligus biaya hidup mahasiswa.
Sebanyak 10 mahasiswa dikirim melalui program tersebut. Pembiayaan dibagi antara Pemkab Kutim dan pihak Sampoerna, dengan masing-masing pihak menanggung lima penerima beasiswa.
“Kalau yang Sampoerna sama biaya hidupnya. Berbagi dua, separuh Kutai Timur, separuh Sampoerna,” jelas Mulyono.
Program tersebut juga memiliki keunggulan dari sisi pembelajaran. Mahasiswa mengikuti perkuliahan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan berkesempatan memperoleh dua gelar melalui kerja sama akademik yang dijalankan perguruan tinggi tersebut. Mahasiswa berprestasi juga berpeluang mengikuti program perkuliahan selama beberapa bulan di Amerika Serikat.
Selain program yang dibiayai pemerintah daerah, Mulyono menyebut terdapat pula sejumlah sumber beasiswa lain yang dapat dimanfaatkan masyarakat Kutai Timur. Di antaranya beasiswa dari perusahaan, Baznas, serta kerja sama dengan Universitas Mulawarman di bidang kesehatan.
Namun, perhatian Pemkab Kutim terhadap pendidikan tidak hanya diberikan kepada siswa dan mahasiswa. Disdikbud juga memiliki program peningkatan kualifikasi bagi guru melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL.
Program tersebut memungkinkan pengalaman kerja dan pembelajaran sebelumnya yang dimiliki guru diakui dalam proses pendidikan formal sehingga masa studi dapat ditempuh lebih singkat.
Mulyono menyebut program tersebut secara sederhana dapat dipahami sebagai kuliah dengan masa studi yang lebih singkat karena pengalaman kerja guru ikut diperhitungkan.
“Kenapa disebut kuliah diskon? Karena masa kerja guru-guru ini dihargai. Jadi S1 itu bisa diselesaikan selama dua tahun, S2 bisa selesai satu tahun,” katanya.
Untuk program RPL jenjang S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pemkab Kutim menargetkan seluruh guru yang belum memiliki kualifikasi sarjana dapat melanjutkan pendidikan.
Saat ini, sebanyak 249 guru Kutai Timur tercatat menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selain itu, terdapat 159 guru yang sedang mengikuti pendidikan di Universitas Negeri Malang.
Pada 2026, Disdikbud Kutim kembali mengirim sekitar 80 guru ke Universitas Negeri Jakarta untuk mengikuti program PG PAUD dan PGSD.
“Targetnya bagaimana guru-guru Kutai Timur nanti tidak ada lagi yang tidak sarjana,” tegas Mulyono.
Selain peningkatan kualifikasi guru secara umum, Pemkab Kutim juga mengembangkan program khusus untuk memperkuat layanan pendidikan inklusi.
Program tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah umum, baik negeri maupun swasta, untuk menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Karena itu, menurut Mulyono, kebutuhan terhadap guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusi semakin besar.
Pemkab Kutim kemudian memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pendidikan formal bidang inklusi melalui program S2 RPL di Universitas Negeri Jakarta.
Pada 2024, sebanyak 191 guru dikirim mengikuti program tersebut dan seluruhnya dinyatakan telah menyelesaikan pendidikan pada 2025.
Program itu kembali diperluas pada 2025 dengan mengirim sekitar 300 guru. Dari jumlah tersebut, 297 orang telah menyelesaikan pendidikan, sementara tiga lainnya tidak dapat menyelesaikan program karena kondisi yang dialami masing-masing peserta.
Pada 2026, Disdikbud Kutim kembali menyiapkan pengiriman sekitar 100 guru untuk mengikuti program serupa.
Mulyono mengatakan program tersebut akan terus dilakukan secara bertahap hingga kebutuhan guru pendidikan inklusi di sekolah-sekolah Kutai Timur terpenuhi.
“Kita ingin target, paling minimal satu sekolah itu punya satu guru inklusi,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut dinilai penting karena jumlah sekolah di Kutai Timur mencapai lebih dari 700 satuan pendidikan. Namun, kebutuhan tenaga pendidik inklusi tidak akan disamaratakan. Sekolah dengan jumlah siswa lebih besar dinilai membutuhkan lebih banyak guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusi.
“Secara umum tidak cukup satu orang. Sekolah yang kelasnya besar mungkin perlu tiga atau empat guru. Tapi sekolah kecil mungkin cukup satu atau dua guru,” kata Mulyono.
Dengan berbagai skema tersebut, Pemkab Kutim tidak hanya memposisikan beasiswa sebagai bantuan biaya pendidikan bagi siswa, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualifikasi tenaga pendidik, sekaligus memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Mulyono menegaskan, pengembangan program beasiswa akan terus dilakukan sesuai kebutuhan pendidikan di Kutai Timur, termasuk menyesuaikan sasaran penerima dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan layanan pendidikan di daerah. (adv)



Tinggalkan Balasan