INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)



Solar Langka, Jalur Sungai Lumpuh, Pasokan Sembako Mahakam Ulu Terancam

admin - 3100 views
Dermaga Mahakam, Kota Samarinda yang Akan Berangkat ke Mahakam Ulu. (Foto: Yah/Indeksmedia.id)

SAMARINDA,INDEKSMEDIA.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar melumpuhkan jalur logistik Sungai Mahakam.

Sedikitnya 14 kapal angkutan penumpang dan barang rute Samarinda–Kutai Barat (Kubar) hingga Mahakam Ulu (Mahulu) terpaksa berhenti beroperasi sejak 24 Januari 2026, sehingga mengancam pasokan bahan pokok ke wilayah hulu.

Nahkoda Kapal Nor Fitri Indah III, Muhib (54), mengatakan pelayaran dihentikan karena tidak ada lagi pasokan solar subsidi untuk operasional kapal.

“Terakhir jalan tanggal 24 Januari. Sampai sekarang belum ada BBM. Padahal setiap hari itu seharusnya ada kapal yang berangkat,” ujarnya.

Menurut Muhib, kapal angkutan sungai biasanya beroperasi secara rutin dengan sistem pulang-pergi. Namun kondisi saat ini membuat seluruh armada terhenti total.

“Kalau Jumat berlayar, Rabu depan baru kembali ke sini. Sekarang semuanya terhenti. Semua kapal dari sini tidak ada yang mudik, dari sana pun tidak ada yang ke hilir,” katanya.

Dia menjelaskan, kebutuhan solar untuk satu kali perjalanan pulang-pergi tergolong besar.

“Sekali jalan PP hampir tiga ton solar, ada juga yang lebih. Tergantung pemakaian kapal,” ujarnya.

Terhentinya aktivitas pelayaran berdampak langsung terhadap penghasilan kru kapal serta distribusi barang ke wilayah pedalaman. Banyak penumpang membatalkan perjalanan karena kapal tidak beroperasi.

“Pendapatan terganggu semua. Tidak bisa apa-apa. Penumpang juga banyak yang membatalkan perjalanan karena kapal tidak jalan. Itu juga kerugian,” kata Muhib.

Lebih jauh, dia mengkhawatirkan terganggunya pasokan kebutuhan pokok di Mahakam Ulu yang selama ini sangat bergantung pada jalur sungai dari Samarinda.

“Seminggu saja kami tidak jalan, stok sembako di sana berkurang karena tidak ada pasokan barang dari Samarinda,” ujarnya.

Muhib menambahkan, kelangkaan BBM bersubsidi kali ini merupakan yang terparah sepanjang ia berlayar.

“Dulu sesusah-susahnya masih bisa cari, sekarang benar-benar tidak bisa,” katanya.

Sebagai informasi, kapal berkapasitas 60 ton tersebut mampu mengangkut hingga 100 penumpang serta berton-ton bahan pokok. Tarif penumpang rute Long Bagun mencapai Rp440 ribu, Melak Rp180 ribu, sementara jasa angkut barang berkisar Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per dus, serta beras Rp300 ribu per ton.

Muhib berharap pemerintah dan pihak Pertamina segera turun tangan untuk mengatasi persoalan kelangkaan solar yang berdampak luas terhadap masyarakat di wilayah hulu Mahakam.

“Harapan kami cepat ada solusi, supaya masyarakat juga enak dan roda ekonomi bisa jalan lagi,” pungkasnya. (yah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!