David Rante Sebut BUMD Tak Cocok Tangani KEK MBTK
KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim) tinggal menunggu izin operasional dari Kementerian Perhubungan.
Hal inipun mendapat tanggapan dari anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kutim David Rante. Dia mengatakan sejak zaman Awang Faroek, KEK MBTK ini diharapkan dapat berlanjut.
“Kalau dari segi penganggaran itu APBN. Sejak zaman Awang Faroek, kita berharap itu bisa berlanjut, tapi saya tidak tahu pasti anggaran di Provinsi ada atau tidak,” kata David Rante.
Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan APBD Kutim bisa saja digunakan untuk membangun KEK MBTK. Namun hal itu perlu dikoordinasikan dengan baik.
“Kalau APBD harus dikonsultasikan sistem penganggarannya bisa atau tidak. Tapi menurut saya, harusnya sih bisa kalau itu dikoordinasikan dengan baik,” ujarnya.
Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur itu juga menanggapi wacana akan dibuatkan BUMD yang menangani KEK MBTK. Dalam BUMD itu merupakan gabungan dari Kabupaten Kutai Timur dan Provinsi Kaltim.
Dia mengatakan, hal itu sepertinya tak perlu dilakukan. Sebab, menurutnya ada cara yang lebih cepat ketimbang harus membuat BUMD.
Selain itu, David Rante menilai BUMD tidak tepat menangani KEK MBTK. Apalagi, melihat banyaknya BUMD yang tak memberikan dampak signifikan bagi PAD.
“Kita tidak pesimis dengan BUMD, tapi tak ada BUMD yang memberikan dampak yang signifikan, apalagi kita berbicara tentang PAD. Kita harus pikirkan itu, apa dampak feedback-nya ke daerah.),” imbuhnya.
Diketahui KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2014. Kawasan ini kaya akan sumber daya alam terutama kelapa sawit, kayu dan energi didukung dengan posisi geostrategis yaitu terletak pada lintasan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II).
ALKI II merupakan lintasan laut perdagangan internasional yang menghubungkan Pulau Kalimantan dan Sulawesi, serta merupakan jalur regional lintas trans Kalimantan, dan transportasi penyeberangan ferry Tarakan-Tolitoli, dan Balikpapan-Mamuju.
KEK MBTK diharapkan dapat mendorong penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi atas berbagai komoditi di wilayah tersebut.
Berdasarkan keunggulan geostrategis wilayah Kutai Timur, KEK MBTK akan menjadi pusat pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya, serta pusat bagi industri energi seperti industri mineral, gas dan batu bara.
KEK MBTK ini diproyeksikan menarik investasi sebesar Rp.34,4T dan diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 55.700 tenaga kerja hingga tahun 2025. (adv)



Tinggalkan Balasan