Tempias dan Panas Hantui Pasar Pagi Samarinda, Pedagang Khawatir Omzet Anjlok Jelang Ramadan
KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Persoalan tempias air hujan dan paparan panas matahari masih menjadi keluhan utama pedagang di Pasar Pagi Samarinda. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan berdagang, menghambat aktivitas jual beli, hingga berisiko merusak barang dagangan, terutama pakaian yang sensitif terhadap air dan suhu tinggi.
Salah seorang pedagang, Kholif, mengungkapkan keluhan kebocoran atap dan tempias hujan telah lama disampaikan kepada instansi terkait. Namun hingga kini, belum ada solusi yang benar-benar dirasakan pedagang.
“Kami sudah melaporkan kondisi di lapangan, soal kebocoran, tempias, sampai panas matahari. Tinggal bagaimana kebijakan dari pihak terkait. Kami ini sifatnya hanya menyampaikan kondisi,” ujar Kholif, Senin (2/2/2026).
Selain hujan, paparan panas matahari pada siang hingga sore hari disebut menjadi persoalan serius. Panas berlebih tidak hanya membuat pedagang merasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak pada kualitas pakaian yang dijual, khususnya dari segi warna dan bahan.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca, para pedagang membentuk grup komunikasi per lantai guna saling berbagi informasi mengenai titik-titik kios yang rawan terkena tempias. Namun karena belum ada penanganan konkret, sebagian pedagang memilih bertindak mandiri.
“Kami pasang paranet pakai biaya sendiri. Kalau hujan atau panas, kami yang repot sendiri. Tidak ada izin resmi, karena kalau menunggu, ekonomi kami bisa terganggu,” katanya.
Pemasangan paranet diakui hanya bersifat sementara untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem. Di beberapa lantai atas, pedagang bahkan sepakat melakukan iuran bersama, meski penerapannya bergantung pada kesediaan masing-masing pedagang.
“Ini hanya untuk meminimalisir. Kalau hujan deras, tempiasnya memang besar, tapi dengan paranet jadi lebih teredam. Panas matahari juga begitu,” jelasnya.
Menurut Kholif, panas matahari biasanya paling terasa pada pukul 14.00 hingga 15.00 Wita, terutama bagi kios yang menghadap ke arah barat.
Posisi tersebut membuat pedagang lebih terdampak dibanding kios yang terlindung tembok bangunan.
Tak jarang, kondisi cuaca buruk memaksa pedagang menutup kios lebih awal demi menghindari kerugian yang lebih besar.
“Bukan karena barang sudah kena, tapi kalau tetap buka risikonya besar. Jadi kemarin kami tutup lebih cepat,” ungkapnya.
Menjelang bulan Ramadan, para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan dengan solusi konkret agar aktivitas perdagangan tidak terganggu.
“Harapan kami cepat ada solusi. Jangan dibiarkan terlalu lama, apalagi mau bulan puasa. Kalau ada kendala begini, usaha kami tidak bisa maksimal,” tegas Kholif.
Sebagai pedagang generasi kedua yang baru menempati kios sejak awal Januari pascarelokasi, Kholif mengaku baru merasakan langsung berbagai persoalan teknis di lapangan.
“Mudah-mudahan keluhan pedagang bisa segera direspons dan ditangani dengan cepat,” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan