Mahyunadi Soroti 542 Keluarga Berisiko Stunting di Sangatta Utara, Rumah Rehab Gizi Jadi Pilot Project Kutim
SANGATTA, INDEKSMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) memperkuat penanganan stunting melalui Rumah Rehab Gizi Stunting di Kecamatan Sangatta Utara. Fasilitas tersebut menjadi proyek percontohan untuk memberikan intervensi gizi sekaligus memantau tumbuh kembang anak secara lebih terpadu.
Program ini menjadi perhatian karena masih terdapat 542 keluarga berisiko stunting (KRS) di Kecamatan Sangatta Utara. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan intervensi dan pendampingan keluarga untuk mencegah risiko stunting berkembang menjadi kasus baru.
Wakil Bupati Kutai Timur sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kutim, Mahyunadi, mengatakan Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara masih berstatus pilot project sebelum dikembangkan ke kecamatan lainnya.
“Rumah rehab stunting ini merupakan pilot proyek bagi Kabupaten Kutai Timur,” ujar Mahyunadi, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, efektivitas program akan menjadi dasar pemerintah untuk menentukan pengembangan layanan serupa di wilayah lain. Intervensi yang diberikan tidak hanya berupa makanan bergizi, tetapi juga pemantauan kondisi anak serta pendampingan keluarga.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena penanganan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga secara berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya berupaya memperbaiki kondisi gizi anak, tetapi juga memastikan orang tua memahami pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Untuk memastikan sasaran memperoleh layanan, pemerintah kecamatan juga menerapkan pola jemput bola. Anak yang menjadi sasaran akan dijemput apabila orang tua mengalami kendala untuk mengantarkannya ke Rumah Rehab Gizi.
“Kalau orang tua tidak datang membawa anaknya, maka anak tersebut dijemput oleh tim kecamatan,” kata Mahyunadi.
Ia menilai pola tersebut diperlukan agar keterbatasan keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan intervensi.
“Pemerintah harus memastikan anak yang membutuhkan penanganan tetap mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan awal, Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara menargetkan sekitar 20 anak dalam satu siklus. Dengan lima siklus dalam setahun, kapasitas awal fasilitas tersebut diproyeksikan mampu melayani hingga 100 anak per tahun.
Namun, kapasitas tersebut masih jauh dibandingkan jumlah keluarga yang masuk kategori berisiko stunting di Sangatta Utara.
Mahyunadi mengatakan kapasitas layanan akan terus dievaluasi. Pada tahap awal, program hanya melibatkan delapan anak. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 18 anak dan kini mencapai 20 anak dalam satu siklus.
“Awalnya dicoba delapan, kemudian 18. Ternyata hari ini 20 masih mampu. Mungkin yang akan datang kalau 20 ini masih mampu lagi, mungkin bisa 25,” katanya.
Mahyunadi berharap keberhasilan pilot project tersebut dapat menjadi dasar pengembangan Rumah Rehab Gizi Stunting di Sangatta Utara maupun kecamatan lainnya.
“Ini pilot proyek. Kalau ini berhasil, mungkin kita upayakan tahun depan rumah rehab stunting ini bisa kita maksimalkan, baik di Kecamatan Sangatta Utara maupun di kecamatan-kecamatan lainnya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan Rumah Rehab Gizi Stunting merupakan bagian dari strategi daerah dalam mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting secara nasional.
“Pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting menjadi bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029,” ujar Yuwana.
Ia menyebut target tersebut tercantum dalam RPJMN 2025-2029. Secara nasional, prevalensi stunting tercatat turun menjadi 19,8 persen pada 2024 dari 21,5 persen pada 2023.
Dengan keberadaan Rumah Rehab Gizi Stunting, Pemkab Kutim berharap penanganan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan gizi anak. Program tersebut diharapkan berkembang menjadi model intervensi terpadu yang dapat diterapkan di kecamatan lain, terutama wilayah dengan jumlah keluarga berisiko stunting yang masih tinggi.



Tinggalkan Balasan