INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

Debu Truk Industri di Bengalon Berisiko Picu ISPA dan Ganggu Pertumbuhan Anak

Chaliq - 6500 views
Kepala Dinas Kesehatan, Yuwana Sri Kurniawati.

KUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Aktivitas truk pengangkut material perusahaan semen yang lalu lalang di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan warga, khususnya gangguan pernapasan dan tumbuh kembang anak.

Paparan debu yang dihasilkan kendaraan bertonase besar tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, tetapi juga dikhawatirkan memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkaitan dengan risiko stunting pada bayi dan balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menyebutkan secara medis debu merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan saluran pernapasan. Partikel debu yang terhirup terus-menerus dapat memicu iritasi hingga infeksi, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

“Kalau secara medis, debu itu jelas terhirup dan mengganggu saluran pernapasan. Dampaknya bisa meningkatkan risiko ISPA. Kemungkinan ada peningkatan kasus, tetapi datanya masih perlu kami cek,” ujar Yuwana, Senin (9/2/2026).

Dia menegaskan, secara teori kesehatan lingkungan, peningkatan paparan debu di area permukiman hampir pasti berdampak pada kualitas kesehatan pernapasan masyarakat.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kutim berencana melakukan penelusuran dan analisis data ISPA terbaru di wilayah Bengalon untuk melihat tren yang terjadi.

Selain ISPA, Yuwana juga menyoroti potensi dampak lanjutan terhadap pertumbuhan anak. Menurutnya, infeksi saluran pernapasan yang terjadi berulang pada bayi dan balita dapat mengganggu asupan nutrisi dan proses tumbuh kembang.

“Pada bayi dan balita, infeksi saluran napas atas yang sering tentu berpengaruh pada pertumbuhan. Kondisi ini ada korelasinya dengan risiko stunting,” jelasnya.

Meski demikian, hingga saat ini Dinkes Kutim belum dapat memastikan angka pasti kasus ISPA maupun stunting yang secara langsung berkaitan dengan kondisi lingkungan di Desa Sekerat.

“Untuk data spesifik Sekerat, kami memang belum melihat secara detail. Itu yang akan kami evaluasi,” terangnya.

Ke depan, Dinas Kesehatan Kutim berencana meninjau kembali data kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kondisi sanitasi di wilayah terdampak aktivitas industri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!