INDEKS MEDIA KALTIM

Berita Hari Ini di Kalimantan Timur (Kaltim)

Kuau, Burung Legendaris Penari Hutan Dayak Muncul di Berau: Tertangkap Kamera Trap

Jibril Daulay - 11800 views
Penampakan burung Kaua dari kamera trap Conservation Action Network (CAN) Borneo di hutan pedalaman Berau, Kaltim (tangkapan layar)

BERAU, INDEKSMEDIA.ID — Di tengah rimba lebat Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, seekor burung eksotis dengan bulu kecokelatan dan pola mata indah terekam menari di depan kamera trap. Sayapnya terbentang anggun, membentuk lingkaran seperti kipas.
Ia adalah kuau (Argusianus argus), burung legendaris yang disebut masyarakat Dayak sebagai “penari hutan”, kini kian langka di tanah Borneo.

Rekaman itu menjadi kabar menggembirakan sekaligus peringatan. Sebab, di tengah deru gergaji dan menyusutnya hutan tropis Kalimantan, hanya sedikit kawasan yang masih bisa menjadi rumah aman bagi sang penari hutan.

“Kuau ini sudah sangat jarang di Kalimantan. Tapi beruntung, masih tertangkap kamera di Lesan. Bahkan lebih dari satu individu,” ujar Paulinus Kristianto, Direktur Conservation Action Network (CAN) Borneo, Minggu (9/11/2025).

Menurut Paulinus, kehadiran kuau di suatu wilayah adalah indikator kuat bahwa hutan masih dalam kondisi baik dan aman dari gangguan manusia. Burung ini tidak seperti orang utan atau beruang madu yang kadang bisa bertahan di area perkebunan atau hutan sekunder.

“Argus itu soliter, sangat sensitif terhadap gangguan. Kalau masih ada kuau, berarti ekosistemnya masih bagus,” jelasnya.

Kuau dikenal hidup menyendiri di lantai hutan tropis dataran rendah. Ia membangun teritori, membersihkan area di bawah kanopi, dan bertahan di wilayah yang minim aktivitas manusia.

Namun, meski masih tercatat di Lesan, Paulinus tak menampik bahwa populasinya terus menurun. Ia bahkan menilai status konservasinya yang kini masih “Vulnerable” (rentan) di daftar IUCN Red List sudah tidak relevan lagi.

“Data di lapangan menunjukkan populasinya menurun drastis. Harusnya sudah masuk kategori Endangered (terancam punah). Habitatnya terus hilang, dan mereka tidak bisa hidup di area yang terganggu,” tegasnya.

Sang Penari dari Rimba

Kuau dikenal sebagai burung dengan ritual kawin yang memukau. Pejantan akan membersihkan area lantai hutan hingga rapi, lalu menari sambil membuka sayap dan ekornya yang panjang, dihiasi pola bulatan menyerupai mata. Tarian ini dilakukan untuk menarik perhatian betina.

“Kuau ini perfeksionis. Sebelum menari, mereka bersihkan dulu lantainya. Saat tertangkap kamera trap, kebetulan sedang menari, memamerkan bulu-bulunya,” kata Paulinus.

Suara kuau juga menjadi penanda khas di hutan tropis. Dentum suaranya yang keras, terdengar hingga ratusan meter, menjadi alasan masyarakat Dayak menyebutnya “burung kuau.” Suara itu bukan hanya panggilan cinta, tetapi juga cara menandai wilayah kekuasaan.

Bagi masyarakat Dayak, kuau bukan sekadar burung. Ia adalah simbol keindahan, harmoni, dan kekuatan magis. Tarian kuau menginspirasi gerak tari tradisional di pedalaman Kalimantan yang menggambarkan keseimbangan antara manusia dan alam.

“Enggang melambangkan keagungan dan roh leluhur, sedangkan kuau melambangkan keindahan dan harmoni. Bulu kuau dulu digunakan di tameng, pakaian pembesar adat, sampai upacara pernikahan,” tutur Paulinus.

Kini, bulu kuau semakin langka, bukan karena perburuan, melainkan karena burungnya kian sulit ditemukan.

Secara adat, masyarakat Dayak tak pernah memburu kuau. Jika menggunakan bulunya, mereka hanya mengambil yang rontok secara alami.

“Secara adat, burung kuau dilindungi. Yang diambil itu hanya bulu copot. Tapi saat hutan hilang, mereka ikut hilang. Itu yang bahaya,” ujarnya.

Paulinus berharap perhatian terhadap konservasi kuau tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga nilai budayanya yang mendalam. Hilangnya kuau, katanya, berarti hilangnya sebagian identitas budaya Kalimantan.

“Kalau kuau hilang, bukan cuma hutan yang kehilangan penari, tapi juga budaya Dayak kehilangan makna. Ini bukan cuma soal satwa, tapi tentang menjaga warisan harmoni manusia dengan alam,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!